salam

6/16/2011

jalan terdekat menuju surga

Bismillahirrahmanirrahim
Surga…negeri indah yang jauh di mata, tapi setiap jiwa mengharapkannya. Ada yang berusaha sungguh-sungguh, ada pula yang jatuh bangun untuk mendapatkannya. Tapi…adapula yang putus asa, sehingga membiarkan dirinya tenggelam dalam kubangan dosa. Mengapa? Karena, ia merasa jalan ke surga itu sulit, melelahkan serta banyak rintangan.
Sungguh, wahai kawan yang hampir putus asa, atau telah berputus asa, dan kawan-kawan yang tak ingin berputus asa, telah ku dapati percakapan penuh nasehat dalam tulisan yang singkat, tentang jalan paling mudah dan dekat menuju surga…
Inilah percakapan yang ku maksud…
Si Fulan bertanya pada temannya,
“Wahai saudaraku tercinta! Apakah engkau menginginkan surga?”
Temannya menjawab,
“Siapakah dari kita yang tidak ingin masuk surga? Siapa di antara kita yang tak ingin mendapatkan kenikmatan yang kekal abadi? Dan siapakah di antara kita yang tak ingin merasakan kesenangan yang kekal, serta kelezatan-kelezatan yang terus menerus, yang tak kan lenyap dan tak pula terputus?”
Si Fulan berkata,
“Kalau begitu…maka mengapa engkau tak beramal shalih yang dapat menyampaikanmu ke surga?”
Temannya menjawab,
“Sesungguhnya jalan ke surga itu sulit, panjang, penuh rintangan dan duri. Sedangkan diriku ini lemah, tak dapat aku bersabar atas kesulitan dan kesusahan yang terdapat di jalan itu.”
Si Fulan berkata,
“Saudaraku…jika engkau merasa tidak dapat bersabar dalam mentaati perintah-perintah Allah, serta bersabar untuk menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat selama di dunia, lalu bagaimana engkau akan bersabar jika nanti di akhirat engkau menjadi penghuni neraka Jahannam?! semoga Allah melindungi aku darinya.”
Temannya menjawab,
“Inilah yang mempengaruhiku dan menjadikanku bimbang dalam urusanku. Akan tetapi, aku tidak mengetahui apa yang harus kulakukan dan dari mana aku harus memulainya…. Dan sungguh aku telah terlanjur terjerumus ke jalan maksiat dan hal-hal yg diharamkan.”
Si Fulan berkata,
“Aku akan menunjukkan padamu jalan pintas yang akan menyampaikanmu ke surga. Dan jalan ini adalah jalan yang mudah, tidak ada kesulitan maupun usaha yang berat di dalamnya.”
Temannya berkata,
“Tunjukkan padaku jalan itu, semoga Allah merahmatimu. Sungguh aku selalu ingin memngetahui jalan yang mudah itu.”
Si Fulan berkata,
“Jalan yang dimudahkan ini, dijelaskan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya “Al-Fawaaid”, dimana beliau berkata,
’Marilah masuk ke surga Allah…serta berdekatan denganNya di Negeri Keselamatan…tanpa ada letih…tanpa ada kesulitan…dan tanpa ada susah payah…bahkan melalui jalan yang terdekat dan yang termudah…’
’Sesungguhnya, engkau saat ini sedang berada pada satu masa di antara dua masa…dan pada hakikatnya masa itu adalah umurmu…yaitu dimana saat ini engkau ada…di antara masa yang telah lalu dan masa yang akan datang…’
’Adapun masa yang telah lalu…maka ia diperbaiki dengan taubat, penyesalan serta permohonan ampun…dan itu bukanlah sesuatu yang sulit bagimu…serta tidak memerlukan amal-amal yang berat…karena sesungguhnya ia hanyalah amalan hati…’
’Dan pada masa yang akan datang…berusahalah menjauhi dosa-dosa…
dan usahamu untuk menjauhi dosa itu adalah hanya berupa usaha untuk  meninggalkan dan bukanlah ia merupakan amalan anggota badan yang menyusahkanmu karena sesungguhnya ia hanyalah berupa kesungguhan serta niat yang kuat…yang akan menyenangkan jasadmu, hatimu serta rahasia-rahasiamu…’
“Apa yang terjadi pada masa lalu, diperbaiki dengan taubat…dan di masa mendatang diperbaiki dengan penghindaran (dari yang haram) dengan kesungguhan serta niat… dan tidak ada kesusahan bagi anggota tubuh atas dua usaha ini.”
“Akan tetapi, yang terpenting dalam masa kehidupanmu adalah masa di antara dua masa (yaitu dimana saat ini engkau berada). Jika engkau menyia-nyiakannya maka engkau telah menyia-nyiakan kebahagiaan dan kesuksesanmu. Namun, jika engkau menjaganya dengan perbaikan dua masa, yaitu masa sebelum dan sesudahnya, dengan cara yang telah disebutkan…maka engkau akan selamat dan menang dengan mendapatkan kelapangan, kelezatan serta kenikmatan…”
Maka, inilah jalan ke surga yang mudah itu….
Bertaubat atas apa yang telah lalu kemudian beramal sholeh serta meninggalkan maksiat pada masa yang akan datang.
Si Fulan menambahkan,
Dan kusampaikan pula padamu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Setiap ummatku akan masuk surga, kecuali yang enggan!” maka shahabat bertanya, siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab, “Siapa yang mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat padaku maka ialah yang enggan” (HR Al-Bukhari)
Dan juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
“Surga itu lebih dekat kepada salah seorang dari kalian dibandingkan dekatnya tali sendalnya terhadapnya, demikian pula dengan neraka.” (Muttafaqun ‘alaih).
***
Diterjemahkan dari Buletin Aqrabuthariq Ilal Jannah, Edisi 131, Madarul Wathan, Riyadh, KSA oleh Tim Penerjemah Muslimah.or.id
Murojaah: Abu Mushlih Ari Wahyudi

HATI JERNIH CINTAPUN JERNIH

Ketika saudara atau teman meraih nikmat pantasnya kita juga turut senang. Bukan malah sebaliknya,  merasa susah karena orang lain dapat nikmat lebih darimu. Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassalam pernah berpesan, “Janganlah saling menjatuhkan dan berselisih, dan janganlah saling membenci dan mendengki. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Riwayat Al Bukhari)
Sangat bodoh jika mementingkan diri sendiri dan mengharapkan orang lain menderita kerugian, hanya karena diri belum memperoleh kebaikan seperti yang diraih oleh orang lain. Atau bagian dunia belum setara dengan yang dimiliki orang lain, menjadi dengki, karena harapannya pupus sementara orang lain justru berhasil. Ini adalah malapetaka besar yang menghancurkan jiwa dan mengorbankan penyakit kedengkian.
Karena umpan inilah setan leluasa untuk menyalakan api permusuhan dan kebencian di dalam hati. Apabila api ini telah berkobar maka setan menikmati berkobarnya kedengkian manusia di masa kini dan masa yang aka datang. Akibatnya hubungan kecintaan antara sesama muslim pun terkoyak dan keutamaan di antara mereka sirna.
Salah satu indikasi adanya adu domba antar manusia adalah kedengkian yang terkutuk, yaitu harapan agar kenikmatan orang lain sirna. Dengki merupakan penyakit hati. Terletak jauh di dalam diri. Kedengkian menyusupkan keburukan di dalam hati. Barangsiapa menanam keburukan di dalam hatinya, maka ia akan menuai buah yang rasanya pahit. Sebagian besar kedengkian terjadi antar kawan dekat  atau orang yang hampir serupa dalam rupa, sifat, profesi, pekerjaan atau aktivitas…
GARA-GARA TIPUAN DUNIA
Penampilan dunia seringkali memperdaya. Ia mengoyak cinta antar manusia. Padahal hakikat dunia itu yang seperti diungkapkan oleh Ibrahim bin Adham. “Rabb kita mencela dunia, namun kita justru memujanya. Dia membencinya, namun kita justru mencintainya. Dia juga bersikap zuhud terhadapnya, namun kita justru mementingkannya dan senang mencarinya”,aparnya.
Tidak masuk tanda-tanda cinta bila kamu mencintai hal yang dibenci oleh kekasih kamu. Manusia selalu menginginkan kemajuan, namun cara mencarinya bukanlah dengan menghancurkan orang lain.
Apabila kamu ingin merasakan cinta orang lain pada diri kamu, maka biarkanlah orang tersebut merasakan apa yang ada di hadapannya.
Al Hasan berkata,”Kamu senantiasa mulia dalam pandangan masyarakat dan orang-orang pun senantiasa memuliakanmu selama kamu tidak menginginkan apa yang ada di tangan mereka. Karena apabila kamu melakukannya, maka mereka akan merendahkanmu dan tidak menyukai kata-katamu serta membencimu”.
Ayyub Sikhtiyani berkata,”Seseorang tidak akan diterima selama belum memiliki dua sifat. Yaitu menjaga kehormatan dirinya dari segala yang dimiliki oleh masyarakatnya. Dan memaafkan apa yang dilakukan oleh mereka”.
Dengan demikian barangsiapa memandang yang dimiliki orang lain, maka mereka akan membencinya karena hal itu merupakan sesuatu yang mereka cintai. Orang yang menuntut sesuatu yang dicintai orang lain maka ia akan menuai kebencian. Sebaliknya orang yang bersifat zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain dan menjaga kehormatan dirinya dari mereka, maka orang lain akan mencintai dan memuliakannya.
Penduduk sebuah kampung di Basra pernah ditanya oleh seseorang tentang siapa pemimpin desa mereka.
“Hasan”, jawab mereka.
“Apa alasannya dia dijadikan pemimpin oleh masyarakat?”, tanya orang tadi.
“Masyarakat membutuhkan ilmunya, sementara dia tidak memerlukan dunia mereka”, papar mereka.
Imam Ahmad pernah bertanya pada Hatim Al Asham.
“Beritahu aku tentang cara agar selamat dari gangguan masyarakat?” tanya beliau.
“Dengan tiga cara. Kamu memberikan sebagian hartamu kepada mereka tanpa mengambil sedikitpun harta mereka. Kamu menunaikan hak mereka tanpa menuntut hak dari mereka. Kamu bersabar atas gangguan tanpa mengganggu mereka”, paparnya.
Oleh karena itu, harus langsung melawan perasaan dengki begitu muncul di dalam hatimu.
Para ulama memberikan nasehat, ”Sesungguhnya orang yang berakal apabila terlintas dalam pikirannya perasaan dengki terhadap saudaranya, maka ia harus menutupi di dalam dadanya, dan meninggalkannya setiap kali pikiran semacam itu muncul”.
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam pun mengajarkan doa dalam dzikir pagi dan petang.
“Ya Allah, setiap kenikmatan yang ada padaku ataupun pada salah satu di antara makhlukMu adalah berasal dariMu semata, maka segala puji bagiMu”.
Teladanilah petuah Hatim Al Asham,
“Aku melihat ciptaan Allah, maka aku menyukai satu orang dan membenci satu orang. Ternyata orang yang aku sukai tidak memberi apa-apa padaku dan orang yangaku benci tidak mengambil sesuatu pun dariku. Sehingga aku bertanya dalam hati, ”Dari mana ini datang?” lantas aku menyadari bahwa hal itu berasal dari kedengkian. Maka aku pun mengusir kedengkian dari dalam hati, sehingga aku mencintai semua orang. Segala hal yang aku tidak rela menimpa diriku, juga tidak aku relakan menimpa mereka”.
Dengki HILANG, CINTA pun Berkembang
Sumber : Elfata edisi 12 vol 9

6/14/2011

MENSUCIKAN ALLAH









Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Oleh karena itu sepanjang perjalanan sejarah dunia Allah mengutus para Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk menjernihkan aqidah ummat manusia. Sebab manusia memiliki kecenderungan untuk merasa butuh mensucikan sesuatu di dalam hidupnya. Namun sayang, kebanyakan manusia bodoh akan Ma’rifatullah (Pengenalan akan Allah) sehingga mereka akhirnya menjadikan banyak fihak selain Allah sebagai fihak yang disucikan sedemikian rupa sebagaimana semestinya mereka mensucikan Allah Subhaanahu wa Ta’aala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi).

Di antara mereka ada yang mensucikan sesama manusia yang dianggap sangat mulia. Sedemikian rupa pensucian itu sehingga mereka memposisikan manusia yang dimuliakan itu berlebihan alias melampaui batas. Seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Uzair dan kaum Nasrani terhadap Nabiyullah Isa putra Maryam ’alahis-salam.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ
ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا
مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: ”Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?

Kaum Nasrani telah memposisikan Nabiyullah Isa sebagai anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri. Oleh karenanya kita ummat Islam sangat bersyukur adanya sebuah surah di dalam Al-Qur’an yang memberikan pengetahuan fundamental mengenai aqidah tauhid, yaitu surah Al-Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌاللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

”Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".(QS Al-Ikhlas ayat 1-4)

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah menutup celah muncul dan berkembangnya penyakit mensucikan sesama manusia dalam bentuk teguran keras beliau ketika menyaksikan seorang muslim memuji sesama muslim berlebihan. Perhatikanlah hadits di bawah ini:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
مَدَحَ رَجُلٌ رَجُلًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ فَقَالَ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ قَطَعْتَ عُنُقَ
صَاحِبِكَ مِرَارًا إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا صَاحِبَهُ لَا مَحَالَةَ
فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا
أَحْسِبُهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ كَذَا وَكَذَا

Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata: Seorang lelaki memuji orang lain di hadapan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam maka beliau bersabda: “Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu!” Beliau mengucapkannya berulang-ulang. ”Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya”. (HR Muslim 5319)

Bayangkan, saudaraku. Betapa keras teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada seseorang yang telah memuji orang lainnya. Sedemikian kerasnya teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sehingga tindakan memuji sesama manusia itu disetarakan dengan memenggal leher teman artinya membunuhnya…! Dan hal ini dikatakan berulang-kali oleh Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mengapa teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam begitu kerasnya?

Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sangat khawatir bila ummat beliau terjatuh kepada penyimpangan ummat terdahulu, khususnya kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab penyimpangan seperti ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk mempersekutukan Allah. Dan itu berarti termasuk dosa besar. Bahkan dosa yang tidak bisa diampuni Allah.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa ayat 48)

Sehingga dalam kesempatan lainnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bahkan pernah menegur keras para sahabat ketika beliau dapati mereka melakukan bentuk penghormatan berlebihan kepada diri Rasulullah.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا
أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Ibnu Abbas mendengar Umar berkata dari atas mimbar: ”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka ucapkanlah: hamba Allah dan RasulNya.” (HR Bukhary 3189)

Subhanallah... Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sadar dan faham betul bahwa kemusyrikan seringkali
bermula dari bentuk mensucikan orang-orang mulia seperti para Nabi sebagaimana yang dialami oleh kaum Nasrani yang bermula dari mensucikan Nabi Isa berlebihan akhirnya menjadi melampaui batas sehingga dewasa ini kaum Nasrani meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri.

6/01/2011

jebakan syetan dalam beramal ....

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَولَم تَكُونُو تَذْنِبُونَ خَشِيتُ عَلَيكم اكثَرَ من ذلك : العُجْبُ

Kalau kalian tidak berbuat dosa, niscaya aku benar benar merasa takut atas kalian apa yang lebih berat dari itu: (yaitu) UJUB (Hasan, HR al Bayhaqiy)

Berkata Hasan al Bashriy: “Kalau saja anak cucu adam selalu benar setiap kali bicara dan selalu berbuat baik setiap kali beramal, maka dikhawatirkan ia dapat terjatuh dalam sikap UJUB”

Padahal setiap manusia PASTI berbuat dosa, sebagaimana dalam sabda Rasulullah:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‎كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap anak Adam PASTI berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(Shahih Jami’us Shaghir 4391)

Hanya karena kelalaian dirinya, dan MERASA TELAH BANYAK BERAMAL, maka yang ada dibenaknya hanyalah amalan-amalan shalih, padahal amalan shalih tersebut TIDAK BISA IA PASTIKAN telah diterimaNya, dan padahal ia pun TIDAK BISA MEMASTIKAN apakah ia bisa menjaganya hingga akhir hayatnya!

Sehingga jika yang dibenaknya hanyalah ada amalan shalihnya, maka yang ada ia menanggap suci dirinya karena MERASA TELAH BANYAK BERAMAL, bahkan mungkin MERASA TIDAK PERNAH BERBUAT DOSA atau MERASA TIDAK BERDOSA. Inilah yang ditakutkan atas orang-orang yang beramal shalih. maka hendaknya orang-orang yang beramal shalih TIDAK TERTIPU! Maka Janganlah tertipu dengan amalmu!



Lihatlah bagaimana syaithan memperdayai orang-orang “shalih” dengan menimbulkan rasa ujub dalam hatinya, sehingga menjadikan orang tersbeut menjadi orang-orang yang SOMBONG, ANGKUH, MERASA MULIA dan MERASA SUCI!! Laa ilaaha illallah!!

Berkata Yahya bin Mu’adz: “Seandainya ampunan buknalah sesuatu yang paling dicintai Allah, maka makhluk yang paling mulia disisiNya tidak akan pernah meminta ampunan kepadaNya”

Semoga Allah merahmati beliau, benar apa yang beliau katakan, tidakkah kita mengambil pelajaran dari hadits berikut:
Råsulullåh shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai, sekalian manusia. Bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat kepada Allah sehari seratus kali.
(HR. Muslim)

Siapakah yang mengatakan DAN MENGAMALKAN yang demikian? RASULULLAH shallallahu ‘alayhi wa sallam!!! Seorang yang TELAH DIAMPUNI dosa-dosanya YANG TELAH LALU, dan YANG AKAN DATANG. Seorang NABI dan RASUL, Seorang yang DIJAMIN SURGA, Seorang yang memiliki KEMULIAAN yang tinggi disisi Allah! Seorang yang paling tinggi kedudukannya dari semua makhluk! bahkan, penghulunya para nabi!!

Maka apakah amalmu melebihi KUALITAS dari apa yang diamalkan oleh Rasulullah? maka apakah KEDUDUKANmu disisi Allah lebih tinggi dari kedudukan RasulNya yang paling mulia ini? maka apakah dosa-dosamu yang terdahulu maupun yang akan datang telah diampuni Allah? maka apakah engkau telah dijamin surga?

Maka apakah yang menghalangimu untuk beristighfar dan bertaubat kepadaNya? Jika engkau tidak lebih baik daripada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam! Mengapa engkau mengarahkan pandanganmu terhadap orang-orang awwam atau orang-orang fasiq yang lebih sedikit amalnya darimu atau lebih banyak dosanya darimu!?
Ingatlah! Dosa yang mengantarkan pelakunya merasa hina dihadapan Allåh lebih disukai Allåh daripada amal ketaatan yang mengantarkan pelakunya merasa ujub!!

Sesungguhnya jika engkau tertidur di malam hari (tidak melaksanakan sholat malam) kemudian di pagi hari engkau menyesal, lebih baik dari pada jika engkau sholat malam kemudian di pagi hari engkau merasa ujub kepada diri sendiri!!

Rintihan orang yang berdosa lebih disukai di sisi Allåh dibanding suara dzikir orang yang bertasbih namun ujub. Bisa jadi dengan sebab dosa yang dilakukan oleh saudaramu Allåh berikan obat kepadanya dan mencabut penyakit yang membunuh darinya padahal penyakit itu ada pada dirimu dan engkau tidak merasakannya!!
Ingatlah! jika engkau tidak bisa menemukan amalan burukmu, maka apakah engkau memastikan dalam amalan SHALIHmu, telah terbebas dari RIYA’, SUM’AH dan UJUB?!

Jika engkau belum memastikannya, maka BERPRASANGKA BURUKlah kepada dirimu, yang MUNGKIN SEBAGIAN BESAR amalmu telah teracuni oleh RIYA, SUM’AH dan UJUB. tahukah engkau dosa riya’, sum’ah dan ujub? DOSANYA SANGAT BESAR Tidakkah hal tersebut cukup untuk MEMBUKA MATA yang tertutup?

Maka hendaknya kita senantiasa beristighfar dan bertaubat kepadaNya sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat.